Bandara Soekarno-Hatta Kian Sibuk, AirNav Indonesia Percanggih Alat

32

10 Januari 2017 | Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia mencatat Bandara Internasional Soekarno-Hata merupakan bandara terpadat di kawasan ASEAN. Direktur Operasi AirNav Indonesia Wisnu Darjono, dalam pernyataanya di kegiatan Media Gathering Desember 2016 pekan lalu mengatakan jumlah pergerakan pesawat (movement) Bandara Soekarno-Hatta pada 2015 sebanyak 1.040 pesawat per hari atau sekitar 43 movement per jamnya. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding Bandara Kuala Lumpur-Malaysia, Changi-Singapura, dan Suvarnabhumi-Thailand. Untuk movement di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia tercatat hanya sebanyak 971 per hari (40/jam). Sementara Bandara Changi, Singapura mencapai 948 per hari (39/jam) dan Bandara Suvarnabhumi, Thailand sebanyak 868 per hari (36/jam).“Dengan itu, kita harus terus meningkatkan pelayanan di udara. Terutama dengan mempercanggih teknologi yang ada,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, lanjutnya, movement pesawat di Bandara Soekarno-Hatta terus meningkat. Tahun ini, jumlah pesawat yang melakukan take off dan landing di Bandara Soekarno-Hatta sebanyak 72 pesawat per jam atau sekitar 1.700 pesawat setiap harinya. “Movement Soekarno-Hatta sekarang 72 pesawat per jam. Itu (hanya) take off dan landing, belum termasuk yang overflying atau lalu lalang,” ujar Wisnu.

Jika digabungkan movement pesawat di Bandara Soekarno-Hatta mencapai sebanyak 29.633 pesawat setiap bulannya. Indonesia juga memiliki bandara dengan movement pesawat yang masuk dalam kategori padat selain Soekarno-Hatta. Diantaranya adalah Bandara Sultan Hasanuddin-Makassar, Bandara Juanda-Surabaya, Bandara Ngurah Rai-Denpasar, Bandara Sepinggan-Balikpapan, dan Bandara Kualanamu-Medan. “Ini yang selalu kita akan coba untuk kelola”.

Adapun alat navigasi yang sedang digarap selama tahun 2016 adalah : pembangunan 5 (lima) radar baru di Soekarno Hatta, Yogyakarta, Padang dan Pekanbaru, Modernisasi Alat Navigasi seperti VOR, Uji coba ADSB, serta modernisasi alat lainnya. Dalam penutup arahan media gathering pekan lalu, selaku Direktur Operasi Perum LPPNPI menambahkan, “Dengan alat navigasi yang baru dan canggih, dapat memaksimalkan terbang tidak lagi antri dan tentu lebih cepat dan bisa dioptimalisasi,” pungkas Wisnu.

Source Bandara Soekarno-Hatta Kian Sibuk, AirNav Indonesia Percanggih Alat

Leave A Reply

Your email address will not be published.