Angkutan Peti Kemas Jadi Idaman di Pelabuhan Tanjung Perak

15

09 Mei 2016

Surabaya – Angkutan laut dengan menggunakan kapal peti kemas semakin menjadi pilihan bagi para pemilik barang untuk mengirimkan kargonya. Hal ini terbukti dengan jumlah kunjungan kapal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang lebih banyak dibandingkan dengan kapal lainnya, seperti kapal general cargo, kapal tanker BBM, dan kapal curah kering, serta kapal curah cair.

“Hingga bulan Februari 2016, jumlah kapal peti kemas yang datang di Pelabuhan Tanjung Perak mencapai 915 kapal atau sekitar 44 persen dari seluruh jenis kapal yang datang,” kata Kahumas Pelindo III Tanjung Perak, Oscar Yogi Yustiano di Surabaya, Senin (9/5).

Sedangkan, untuk kapal general cargo jumlah kunjungan mencapai 297 unit, kapal tanker BBM  sebanyak 72 unit, kapal curah cair non Bahan Bakar Minyak (BBM) 78 unit, dan kapal curah kering 35 unit.

“Jumlah kapal tersebut meliputi kapal yang datang di Pelabuhan Tanjung Perak, baik itu di Terminal Berlian, Terminal Teluk Lamong, dan Terminal Petikemas Surabaya (TPS),” jelas pria yang akrab dipanggil Yogi ini.

Yogi mengungkapkan mengapa kapal peti kemas menjadi pilihan. Penggunaan peti kemas atau kotak besi itu lebih aman dan dapat melindungi barang yang ada di dalam peti kemas dari berbagai kondisi, diantaranya adalah kerusakan akibat cuaca atau badai, serta pencurian. Selain itu, proses bongkar muatnya pun bisa lebih mudah, karena dapat dilakukan dengan crane kapal atau crane darat.

“Percepatan bongkar muat akan mendorong berkurangnya biaya logistik,” ujarnya.

Demikian halnya dalam pengangkutan dapat lebih cepat karena menggunakan truk peti kemas dan kereta api.

“Kini banyak komoditas yang dahulunya diangkut dengan kapal general cargo atau kapal curah, beralih ke kapal peti kemas,” ujarnya.

Komoditas itu adalah semen, pupuk, kedelai, dan jagung. Apalagi, saat ini peti kemas atau kontainer memiliki berbagai variasi seperti peti kemas berpendingin untuk mengangkut makanan dan peti kemas untuk kendaraan.

”Disesuaikan dengan kebutuhan,” terangnya.

Padahal apabila dilihat dari sejarahnya, penemuan peti kemas terjadi secara tidak sengaja oleh seorang petani asal Amerika Serikat, Malcom McLean pada tahun 1937. Ia melihat proses bongkar muat yang lama di pelabuhan, sehingga dia menciptakan kotak besi untuk mengangkut barang ke atas kapal dan berkembang hingga saat ini.

“Pertumbuhan kapal peti kemas saat ini sudah sangat luar biasa karena sudah bisa mengangkut hingga 20 ribu TEUs,” katanya.

Sebutlah, Emma Maersk yang memiliki panjang 397 meter, lebarnya 56 meter, dengan kapasitas kargo hingga  15 ribu TEUs.

”Jumlah kru-nya hanya 30 orang, maka sangat efisien,” terangnya.

Pelindo III melakukan pengerukan alur pelayaran barat Surabaya yang sebelumnya memiliki kedalaman -9.5 meter menjadi -13 meter, kemudian lebar alur 100 meter menjadi 150 meter. Tujuannya untuk mengakomodir kapasitas kapal yang semakin besar.

”Kalau kapal yang datang semakin besar maka akan semakin efisien dan ramah lingkungan, karena biaya BBM dan kru serta polusi udara dapat diminimalisir,” katanya.

Source Angkutan Peti Kemas Jadi Idaman di Pelabuhan Tanjung Perak

Leave A Reply

Your email address will not be published.