Align to Win (Bagian I)

13

Jumat, 19 Juni 2015 | Saya pernah berkunjung ke rumah seorang sahabat di Riau pada akhir Agustus beberapa tahun silam. Kebetulan pada saat itu ada sebuah acara yan selalu meriah setiap tahunnya yaitu Festival Nasional Pacu Jalur Taluk Kuantan di Sungai Kuantan. Pacu jalur adalah jenis olah raga dayung tradisional Riau. Dengan jumlah pendayung berkisar antara 50 hingga 60 orang, tergantung panjangnya perahu kayu. Yang menarik dari acara tersebut adalah walau terdapat begitu banyak pendayung namun perahu tetap mampu berjalan lurus, sesuai tujuannya. Hal itu dikarenakan cara mendayung serta memainkan dayungnya begitu seirama dan sinkron sehingga laju perahu berjalan mulus.

Untuk membawa perahu tersebut melaju hingga tujuan, masing-masing pendayung memiliki peran dan tanggung jawab sendiri -sendiri. Setiap perahu memiliki tim yang disebut Anak Pacu, yang terdiri atas Tukang Kayu, Tukang Concang atau komandan pemberi aba – aba, Tukang Pinggang atau juru mudi, Tukang Onjai pemberi irama dibagian kemudi dengan cara menggoyang goyangkan badan, dan Tukang Tari yang mebantu Tukang Onjai dalam memberi irama tekanan yang seimbang pada perahu, agar jalur dapat berjungkat – jungkit secara teraratur dan berirama.

Stabilnya jalur dan percepatan perahu dapat terjaga karena kemampuan kerjasama yang sinkron dari masing – masing Anak Pacu. Tidak ada satupu anggota tim yang melanggar perannya, namun semua orang bergerak menuju tujuan yang sama. Kemampuan sinergis dan kesadaran akan kemampuan masing- masing anggota sangat dibutuhkan dalam perlombaan ini.

Tradisi pacu jalur mencerminkan pentingnya sinergi dalam setiap aktivitas tim, seperti dalam organisasi. Dengan adanya sinergi, secara bersama – sama tim akan memperoleh hasil yang optimal, terutama dalam proses implementasi strategi. Namun dalam dunia nyata, menciptakan sinergi dengan penyelarasan, atau bahasa umumnya alignment, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi dalam sebuah organisasi yang kompleks, dimana berbagai kepentingan berbenturan dan pihak-pihak terkait seringkali terjebak dalam silo – silo (fungsi masing – masing). Padahal, dunia ini terus berubah, mengalami turbulensi, dan paradoks bermunculan dimana – mana. Menurut pakar manajemen Rhenald Kasali dalam harian Kompas (20/7/10), kita harus lebih luwes dan adaptif. Lihat saja bagaimana Cina dan Vietnam yang berpaham sosialis namun tetap menerapkan ekonomi pasar secara luas, dan terbukti berhasil.

Mengapa Perlu Membangun Alignment ?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , Alignment berarti penjajaran, penertiban barisan, dan penyelerasan. Dalam ilmu manajemen, Alignment adalah penyatuan antara tindakan dan pikiran. Seperti halnya negara, perusahaan bisa merugi dan gulung tikar bukan karena kekurangan orang pintar. Banyak organisasi yang gagal karena terlalu banyak memiliki orang pintar. Sebagai contoh tim nasional sepak bola Inggris yang bertaburan bintang, namun gagal menjuarai piala dunia sejak 1970, secara logika seharusnya mereka sudah lama menjadi juara dunia bukan? Lalu mengapa mereka gagal?

Orang orang pintar yang yang perannya tidak diselaraskan akan terhanyut dalam pikiran dan pekerjaan mereka masing-masing. Begitu juga yang terjadi dalam departemen, unit-unit kerja di perusahaan. Kegiatan sama dengan nama yang berbeda–beda, saling overlap, yang dilakukan oleh pelaku yang berbeda–beda adalah pemborosan. Masing-masing terjebak dalam silo (fungsi) yang tidak dihubungkan. Jebakan silo dan asumsi hanya akan mempersempit ruang gerak. Dalam konteks Negara, hal ini sagat disadari oleh Negara dengan kesejahteraan baru seperti Singapura, Vietnam, India, Cina , Malaysia, dan Rusia. Mereka amat menyadari akan pentingnya Alignment dimana semua elemen terpimpin oleh satu visi, menjaga peran tetap efektif sambil melengkapi dalam satu jajaran. Dalam konteks perusahaan contohnya adalah Samsung dan LG yang bisa merobohkan kedigdayaan industri elektronik Jepang, Microsoft yang menguasai pasar operating system di dunia, bahkan group Djarum yang tidak hanya menguasai pasar rokok nasional tapi juga menjadi jawara dalam industri jasa perbankan dengan BCA nya.

Dalam tulisan selanjutnya kita akan lebih dalam mengulas tentang apa dan bagaimana Alignment dalam organisasi .

Source Align to Win (Bagian I)

Leave A Reply

Your email address will not be published.