80 Barang Elektronik Tak Ber-SNI Disita Disperindag

35

Thu, 22 January 2015 08:30:47 +0700 —¬†Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Depok bakal memberikan sanksi penyitaan beberapa barang impor yang dijual beberapa pusat perbelanjaan atau mall yang tersebar di kota ini. Itu menyusul dari hasil inspeksi mendadak (Sidak) barang elektronik luar yang tak ber Standar Nasional Indonesia (SNI) masih dijual.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok, Agus Suherman menegaskan, sanksi penyitaan barang elektronik tak ber-SNI itu dilakukan sesuai instruksi Disperindag Provinsi Jawa Barat. Hal itu guna mengantisipasi peredaran barang tidak layak konsumsi dan sulit digunakan masyarakat. Terlebih barang itu banyak diminati warga yang datang berbelanja.

“Untuk sampel sudah kami dapatkan. Jika masih kami temukan maka penyitaan akan dilakukan. Ini akan menyulitkan masyarakat mengetahui kegunaan dan peruntukan barang elektronik, karena bahasanya masih menggunakan bahasa asing,” tegasnya kepada INDOPOS, usai sidak di Giant Margo City, kemarin (19/01).

Dari hasil sidak mereka, kata Agus, ditemukan adanya 80 jenis barang elektronik dari berbagai merek dari luar negeri yang terpajang di empat pusat perbelanjaan ternama kota berikon belimbing. Seperti Giant, Carrefur, Ace Hadware yang ada di Jalan Margonda Raya, Jalan Raya Bogor, dan Jalan Sawangan Raya. Barang elektronik itu berupa, AC, Dispenser air, dan beberapa jenis barang elektronik lain. Bahkan, barang elektronik itu tidak memiliki kartu garansi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang membuat.

“Kebanyakan merek China, Jepang dan Amerika. Hampir semua pusat perbelanjaan itu tidak berstandar SNI. Sampel barangnya pun sudah kami sita sebagai bukti,” jelasnya.

Menurutnya, pusat perbelanjaan yang menjajakan barang tak ber-SNI tersebut terbilang cukup nakal. Sebab, selama mereka melakukan pengawasan dan monitoring keberadaan barang elektronik tak ber-SNI itu selalu ditemukan. Dan hal itu melanggar Peraturan Menteri Perdagangan RI (Permendagri) Nomor 19 tahun 2009, tantang pendaftaran petunjukpenggunaan dan kartu jaminan atau garansi purna jual haru dalam bahasa Indonesia bagi produk telematika dan elektronik.

“Ini untuk melindungi konsumen, sebab harga barang elektronik mahal. Selain itu bila salah digunakan bisa membahayakan. Untuk itu petunjuk manualharus mudah dimengerti dengan penggunaan bahasa Indonesia,” paparnya.

Karena temuan itu pula, sambung Agus, penyitaan barang elektronik itu akan mereka lakukan saat melakukan sidak pada 2015 tersebut. Mereka juga akan menyerahkan barang sitaan itu untuk dimusnahkan. Dan jika tindakan itu tidak membuat jera para pusat perbelanjaan yang masih kedapatan memajang barang elektronik tak ber-SNI maka perizinan mereka siap dicabut.

“Kami mengimbau agar suplier barang elektronik agar memperhatikan label SNI, pada produk yang mereka salurkan. Sebab, masih banyak mainan anak yang belum berSNI. Jika membeli produk harus menjadi konsumen cerdas,” imbuhnya.

Source 80 Barang Elektronik Tak Ber-SNI Disita Disperindag

Leave A Reply

Your email address will not be published.